Oleh: Yohanes Dian Alpasa, S.Si.
Dinamika kaum muda Bengkulu tetap menjadi perhatian Multiplikator Stube-HEMAT Bengkulu. Dua tahun terakhir, Multiplikator mengamati fluktuasi penggunaan narkoba di kalangan kaum muda, angka kekerasan remaja, dan plagiasi tulisan ilmiah berbasis AI yang cenderung meningkat. Pengamatan ini berdasarkan catatan pribadi sebagai pembina rohani pada dua Lembaga Pemasyarakatan, satu Rumah Tahanan di Kota Bengkulu, koran lokal, kabar yang beredar, dan apa yang disampaikan akademisi.
Tentu saja hasil amatan itu tidak serta-merta utuh dan layak dipresentasikan menjadi catatan ilmiah, tetapi sudah cukup untuk menggagas suatu gerakan sederhana melakukan intervensi dan memberi pemahaman pada kaum muda. Samuel Purdaryanto, seorang pengajar di Bengkulu, mempelajari perkembangan kaum muda dan dia mendapati beberapa hal. Pertama, anak muda Bengkulu tidak mudah membangun argumentasi, menjauhi uraian panjang, dan menyukai penjelasan singkat. Hormat kepada orang lain didasarkan atas kedekatan (bestie) bukan pada status dan predikat yang disandang seseorang. Seorang pengajar pun tidak dihargai dan tidak disegani bila tidak dekat. Karena itu, Samuel selama ini berusaha membangun kedekatan dan persaudaraan dengan para mahasiswa yang dia ajar, sehingga situasi mengajar menjadi lebih efektif untuk menambah pengetahuan.
Bertempat di Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu (STTAB), Stube-HEMAT Bengkulu menggelar diskusi bertajuk “Ekoteologi dan kehidupan kekristenan di Bengkulu” (Senin, 10/11/2025). Diskusi dipimpin oleh DR. Samuel Purdaryanto yang juga mengajar teologi sistematika. Paper yang dibagikan berjudul “Liturgi Yang Ramah Bumi; Mungkinkah Gereja Hijau di Indonesia?” Poin penting yang bisa dicatat di sini adalah: kondisi ekosistem hayati di Indonesia yang mengalami penurunan jumlah karena Indonesia sudah kehilangan banyak hutan. Samuel menambahkan, perubahan luas hutan juga mempengaruhi kehidupan penduduk lokal dan suku-suku yang tinggal di pedalaman. Jika ciptaan mengalami penderitaan ekologis, maka gereja perlu menimbang ulang praktik ibadah dan liturginya guna mempromosikan penatalayanan, keadilan ekologis, dan rekonsiliasi kosmis. Penghematan energi dan penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan adalah praktik sederhana dari pemahaman ekoteologi tersebut.
Yohanes Dian Alpasa, selaku multiplikator memperkenalkan Stube-HEMAT, sejarah dan dinamika yang terjadi sampai bisa tiba di Bengkulu. Yohanes memaparkan bahwa seorang mahasiswa yang tergabung dalam Stube-HEMAT diharapkan memiliki tujuan yang jelas, spesifik, dan terukur. Visinya harus betul-betul bisa digambar, diraih, dan dipecah setiap hari. Untuk itu, setiap anak muda harus mampu mengenali dirinya, dipandu dengan pertanyaan “siapa saya?”, “dengan siapa?”, “harus bagaimana?”, dan “Kemana?” Mahasiswa yang dengan tegas menyatakan ingin menjadi pendeta, misionaris, guru, atau penulis buku, perlu melakukan langkah-langkah kecil setiap hari menuju tujuan itu (Atomic Habit, James Clear).
Pada akhir pertemuan, peserta ditantang kembali untuk berdiskusi dan mempertajam pikiran dengan isu-isu baru yang terjadi. Pertemuan berikut dapat diisi dengan resensi buku, latihan skill sederhana, dan diskusi dengan topik menarik lainnya. Hari Pahlawan Nasional, momentum reflektif anak muda untuk melanjutkan perjuangan. ***
(Multiplikator Stube-HEMAT Bengkulu mengucapkan terimakasih atas dukungan
dari STTAB dalam kegiatan ini)


.jpg)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar